Pages

4.6.12

Riya' kah?


Assalamu'alaikum ^^

Sebagai manusia, kita seringkali bangga terhadap sesuatu. 
Entah itu sekedar benda kepunyaan, karya, atau pencapaian. Ada rasa ingin orang lain tau, ingin dipuji, atau apalah.  Jujur, gue pernah juga sih ngerasa gitu, sering juga malah -___-" haha
Tapi, ternyata itu menjurus ke riya' loh.


Astaghfirullah..

Sering ya kita sekedar nge-tweet tentang ibadah kita, dari ibadah wajib sampe ibadah sunah, mungkin?
Dan biasanya juga niat kita jauh dari riya' atau malah niat yang mulia untuk mengingatkan atau menginspirasi orang lain.
.
Tapi itu termasuk pamer juga ya diliat-liat. Termasuk riya' gak sih ya itu? :S

Waduh, serem juga :(


Yang paling aku atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu? Beliau menjawab, ‘Riya.’ (Riwayat Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baghawi)


Sebenernya gimana sih riya' itu?

Dari artikel  Riya’ Penghapus Amal  ini , Riya’ itu terbagi ke dalam dua jenis.  
Pertama, Riya' yang hukumnya syirik akbar. 
--> Hal ini terjadi jika sesorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia, dan tidak sedikit pun mengharap wajah Allah. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya’ yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Allah berfirman tentang keadaan mereka (yang artinya), 


Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’:142).


Terus, ada lagi riya’ yang terkadang menimpa orang yang beriman.
Jadi, hukum asal riya’ adalah syirik asghar (syirik kecil). Namun, riya’ bisa berubah hukumnya menjadi syirik akbar (syirik besar) dalam tiga keadaan berikut :
1.       Jika seseorang riya’ kepada manusia dalam pokok keimanan. Misalnya seseorang yang menampakkan dirinya di hadapan manusia bahwa dia seorang mukmin demi menjaga harta dan darahnya.
2.      Jika riya’ dan sum’ah mendominasi dalam seluruh jenis amalan seseorang.
3.       Jika seseorang dalam amalannya lebih dominan menginginkan tujuan dunia, dan tidak mengharapkan wajah Allah.[Al Mufiid 183]


Dan ternyata, ada juga ibadah yang tercampur Riya’ loh.
Hukum masalah ini dirinci pada beberapa keadaan. Jika seseorang beribadah dengan maksud pamer di hadapan manusia, maka ibadah tersebut batal dan tidak sah. Adapun jika riya’ atau sum’ah muncul di tengah-tengah ibadah maka ada dua keadaan. Jika amalan ibadah tersebut berhubungan antara awal dan akhirnya, misalnya ibadah sholat, maka riya’ akan membatalkan ibadah tersebut jika tidak berusaha dihilangkan dan tetap ada dalam ibadah tersebut. Yang kedua, adalah amalan yang tidak berhubungan antara bagian awal dan akhir, shodaqoh misalnya. Apabila seseorang bershodaqoh seratus ribu, lima puluh ribu dari yang dia shodaqohkan tercampuri riya’, maka shodaqoh yang tercampuri riya’ tersebut batal, sedangkan yang lain tidak.[Al Mufiid 183]


Kecuali, kita 'berkoar-koar' untuk menyebarkan syiar Islam. kalo itu memang sangat dianjurkan untuk kita saling mengingatkan dan menyebarluaskan ajaran Islam. Seperti yang diriwayatkan dalam hadist Bukhari
"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” 


Dan satu lagi sabda Rasulullah SAW yang sangat mengena, 

"Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walau sebesar dzarrah" 
Astaghfirullah...
Maka dari itu, marilah kita menjaga hati, sikap, dan lisan kita.  

Wallahualam bi shawab



Semoga kita semua senantiasa dilindungi oleh Allah.. Amin Yaa Rabbal Alamin...
*maaf kalo ada yang salah dalam penyampaiannya*


Wassalamualaikum ^^

No comments:

Post a Comment